Laman

Loading...

Rabu, 28 Maret 2012

MAKALAH TRI DHARMA

KATA PENGANTAR


            Dengan semangat, tekad dan kekuatan semua kebajikan, dan keyakinan terhadap triratna, Buddha, Dhamma, dan Sangha, akhirnya perjuangan untuk menyelesaikan makalah ini dapat dituntaskan. Semoga makalah ini benar-benar bisa memberikan manfaat untuk memenuhi tugas makalah Pokok-pokok Dasar Agama Buddha dan juga dunia pendidikan terutama sekolah-sekolah buddhis.
            Penulis menyampaikan ucapan terimakasih atas bimbingan, motivasi, dan bantuan yang bersifat materiil maupun moril, sehingga penulis makalah “Tridharma” dapat terselesaikan dengan baik. Ucapan terimakasih ini penulis haturka kepada: Andri Sariputro, S.Ag.
            Disadari oleh penulis bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, penulis mengharapkan kritikan dan saran dari semua pihak untuk menyempurnakan makalah ini.
            Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan dalam kehidupan sehari-hari.



Jakarta, 14 Maret 1012
Mettacittena,


    Penulis

DAFTAR ISI



BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kita mengenal tentang Tridharma tetapi kebanyakan kita hanya mengetahui ajaran itu dari luarnya saja. Kadang kita hanya bisa mengatakan bahwa ajarannya itu hanyalah seperti ajaran Buddha yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari.
Tetpi kita jarang mengenal lebih dalam tentang ajaran Tridharma tersebut, maka darisitulah penulis membahas tentang ajaran Tridharma dalam suatu wadah makalah sehingga dihrapkan para pembaca akan lebih mudah untuk memahami tentang ajaran dari Tridharma tersebut.

1.2 Tujuan Penulisan

Penulis mempunyai tujuan bahwa dengan penulisan makalah ini dapat menambah wawasan dan dapat mempermudah pembaca dalam memahami “ Ajaran Tridharma”

1.3 Manfaat

Somoga makalah ini dapat bermanfaat untuk penulis sendiri dan untuk pembaca.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Agama Tridharma

A.  Agama Buddha dan Ajarannya

Kira-kira 2520 tahun yang lalu di kota Kapilawastu, daerah Madyadesa India Utara (kini republik Nepal) Sidharta Gautama lahir. Nama Sidharta mempunyai arti “Yang terkabul cita-citanya.” Ayahnya adalah seorang raja dari dinasti Sakya, namanya Suddhodana dengan permaisurinya yang bernama Mahamaya. Kelahiran Sidharta diceritakan bukan dengan cara biasa, menurut kepercayaan agama Buddha Mahamaya bermimpi ada seekor gajah putih bertaring 4 dan sebuah bintang bersudut 6 yang bersinar terang jatuh dari langit turun kedalam perutnya. Sayangnya tidak lama setelah kelahiran Sidharta, ibunya meninggal pada hari ke-7.
Sejak berumur 7 tahun Sidharta suka bertapa salah satunya Jhana pertama. Hal itu membuat ayahnya khawatir dan memanggil para Brahmana. Para Brahmana mengatakan bahwa pangeran Sidharta akan meninggalkan kedudukannya sebagai putera mahkota dan menjadi seorang Budha. Tanda-tanda ketika waktu itu tiba: pertama, dia melihat orang yang telah lanjut usia; kedua, dia akan melihat orang sakit; ketiga, dia akan melihat orang yang meninggal. Singkat cerita ramalan itu terbukti benar. Sidharta kemudian mencari jawaban atas kehidupan manusia.
Pada usia ke 35 tahun Sidharta mencapai penerangan sempurna di bawah Pohon Bodhi, Bodh-Gaya. Kemudian setelah mencapai kesempurnaan, dia mulai mengajarkan ajarannya untuk pertama kali di Isipathana dekat Benares kepada lima orang pertapa. Ajarannya pertama kali disebut Cattur Arya Sattyani (empat kesunyataan mulia) dan Hasta Arya Marga (delapan jalan utama). Empat kesunyataan mulia diungkapkan sebagai berikut:
1. Semua bentuk kehidupan adalah penderitaan (Dukkha).
2. Penderitaan disebabkan oleh nafsu atau keinginan yang rendah (Tanha).
3. Dengan lenyapnya Tanha lenyap pula Dukkha dan itulah     Nirwana.
4. Cara atau jalan untuk melenyapkan Dukkha adalah delapan jalan utama.
Delapan jalan utama itu, adalah:
1. Pengertian yang benar.
2. Pikiran yang benar.
3. Ucapan yang benar.
4. Perbuatan yang benar.
5. Mata pencaharian yang benar.
6. Daya upaya yang benar.
7. Perhatian yang benar.
8. Konsentrasi yang benar.
Menurut kepercayaan pengikut agama Buddha peristiwa ini dikenal sebagai hari suci Asadha. Di kemudian hari Sidharta memaparkan ajarannya sebagai Mahjima Pattipada atau jalan tengah. Jalan tengah mempunyai pengertian menghindari dua hal yang ekstrem yaitu: hidup dengan berfoya-foya dan bersenang-senang, memuaskan nafsu inderanya secara berlebihan, dan bersifat rendah Manfaat jalan tengah tersebut menurut pengikut Buddha: memberikan kedamaian, pengetahuan, penerangan, melenyapkan kebodohan, nafsu jahat dan serakah yang merupakan sumber dari penderitaan.

B. Agama Tao dan Ajarannya

Pendiri agama Dao adalah Lao Tze. Sedangkan kitab sucinya Tao-Tse-Djing. Hingga kini tidak ada kesepakatan tentang sejarah kehidupan tokoh Lao-Tze. Salah satu acuan dalam riwayat hidup Lao Tze sendiri didapatkan dari tulisan sejarah Sma Tjhien (Sima Yin) pada abad pertama sebelum masehi. Menurut sejarah yang disusun Sima Yin, Lao-Tse adalah orang dari desa Tjhii-ren, kecamatan Lai, kabupaten Khu, Negara Tjhuu. Nama pribadinya adalah Er, alias Tan dan nama keluarganya adalah Li. Ia menjabat pengurus arsip kerajaan Tjou. Ada dua bagian dalam kitab Tao-Tse-Djing, yaitu Shang-sia-phien (Baca. Bagian pertama dan kedua). Ajarannya disebut Tao. Istilah Tao lazimnya berarti suatu jalan atau suatu cara bertindak. Tao merupakan bahan dasar yang menyusun segala sesuatu. Tao bersifat sederhana tanpa bentuk tanpa upaya berpuas diri sepenuhnya. Tao sudah ada sebelum adanya langit dan bumi.  Dalam proses sejarah waktu manusia makin jauh dari keadaannya yang sempurna. Kitab Lao Tse yang dikenal sebagai kitab Tao-Tse-Djing juga mengajarkan Te. Istilah Te tidak dapat diidentikan dengan ‘kebajikan’ seperti yang digunakan oleh para penganut agama KongHuCu. Karena Lao Tze sendiri mengacu istilah Te untuk mengacu kepada sifat-sifat atau kebajikan yang alami, naluriah, asli, yang dilawankan dengan sifat-sifat atau kebajikan yang diberikan pekokoh sosial atau pendidikan.
Asas dasar Taoisme: “Bahwa seharusnya manusia menyelaraskan diri dan tidak menentang hukum-hukum hakiki alam semesta.” Segenap lembaga buatan atau segenap upaya adalah hal-hal yang salah. Bahwasanya segenap upaya adalah salah tidaklah berarti bahwa segenap kegiatan adalah salah, melainkan bahwa memaksakan diri mengusahakan sesuatu yang berada diluar jangkauan merupakan suatu kekeliruan.  Mereka yang memahami akan nasib tidak akan mengupayakan sesuatu yang berada diluar jangkauan pengetahuan Maka yang hakiki ialah pandangan kedepan, pertimbangan serta pertimbangan secara bijak, mengenai mana yang dapat dikerjakan serta cocok, dan mana yang baik. Selain kitab Tao-Tse-Tsing ada tulisan lain oleh tentang Taoisme. Kitab itu disebut Chuang Tsu yang ditulis oleh Chuang Tsu. Kitab itu mengajarkan bahwa hidup ini nisbi. Nisbi ini berlaku dalam masalah kesusilaan. Kitab Chuang Tsu mengatakan:
Gerak langit dan bumi berjalan menurut tatanan yang mengagumkan, namun tidak pernah memperkatakannya. Keempat macam musim melihat adanya hukum-hukum yang jelas, namun tidak membicarakannya. Segenap alam diatur oleh asas-asas yang cermat, namun dia tidak pernah menerangkannya. Manusia bijaksana menembus rahasia tatanan langit dan bumi, dan memahami sepenuhnya asas-asas alam. Demikianlah manusia sempurna tidak berbuat apapun, dan manusia besar yang bijaksana tidak menimbulkan apapun. Artinya, mereka sekedar merenungi alam semesta.
Maka, hal yang menjadi prinsip dasariah adalah Wu Wei (Jangan Berbuat Apapun). Hal ini merupakan perintah termashyur bagi penganut Taoisme. Hal ini tidak berarti manusia bersikap pasif. Namun diharapkan manusia tidak berbuat yang tidak alami atau yang tidak serta merta. Yang pokok adalah tidak memaksakan diri melakukan apapun yang diluar kemampuan. Contoh:
Pemanah. Jika kita melakukan lomba memanah dengan memaksakan diri untuk mendapatkan hadiah sekeping emas dan tidak menghasilkan apa-apa. Namun lebih baik bersikap santai dan mahir jika ketepatan tembaknya tidak menghasilkan apapun.
Taoisme menggarisbawahi unsur yang bersifat tidak sadar, intuituf, serta merta. Taoisme mengajarkan bahwa hidup ini sudah diatur dan tidak perlu mengkhawatirkan apa yang harus kita kerjakan. Prinsip Wu Wei dilambangkan dengan Yin Yang. Yin Yang adalah simbol bagi penganut ajaran Tao.

C. Agama KongHuCu dan Ajarannya.

Agama KongHucu memiliki istilah asli yaitu Ru Jiao yang berarti agama daripada kaum yang taat, yang lembut hati, yang beroleh bimbingan atau terpelajar. Istilah KongHuCu dalam bahasa Indonesia diserap dari bahasa Inggris Confucianism, alasan sarjana Barat tidak menggunakan istilah Ru Jiao adalah karena peran Nabi Kongzi di dalam kitab Ru Jiao. Hal ini mungkin terasa janggal karena lewat sejarah diketahui bahwa kitab Ru Jiao sudah ada jauh sebelum Kongzi (Konfusius) lahir.
Kitab suci agama KongHuCu merupakan kanonisasi dari kitab-kitab dan dokumen-dokumen sejarah yang ada sebelumnya. Yang paling tua ditulis oleh Raja Tang Yao (2357-2255 S.M.), Yu Shun (2255-2205 S.M.), Mengzi/Mencius (371-289 S.M.). Maka Kongzi pernah mengatakan:
Aku hanya meneruskan, tidak menciptakan. Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada ajaran dan kitab-kitab kuno itu. Di dalam diam melakukan renungan, belajar tidak merasa jenuh, dan mengajar orang lain tidak merasa capai.
Ru Jiao disempurnakan dan digenapkan oleh Tian, Agama yang dibawakan oleh nabi Kongzi yang telah diutus dan dipilihnya, sebagai Mu Duo atau genta rohaninya mengembalikan dunia kepada jalan suci/ sabda suci dan ditutup oleh ajaran Mengzi yang mengerakkan dan meluruskan jalan penafsiran dan pelaksanaan ajaran KongHuCu. Menurut Tjhie Tjay Ing, proses ajaran Mu Duo, sebagai berikut:
Jalan Suci (Dao) yang dibawakan Ru Jiao atau agama Khonghucu yang tertulis di ayat terakhir kitab suci Si Shu atau Mengzi VII B: 38 “dari yao dan shun sampai cheng tang Sing Thong yang kurang lebih selisih waktunya 500 tahun; orang-orang seperti Yu dan GaoYao/Koo Yao masih dapat langsung dapat mengenalnya (dari sumbernya langsung), tetapi Cheng Tang mengenalnya hanya karena mendengar lisan. Dari Cheng Tang sampai raja Wen/Bun lebih kurang 500 tahun jarak waktunya; orang-orang seperti Yi Yin/I Ien dan Laizhu/Laycu masih dapat mengenalnya tetapi raja suci Wen hanya bisa mendengarnya, dari raja wen sampai nabi Kongzi juga selisih jaraknya 500 tahun; orang-orang seperti Taigong Wang/Thaikong dan Sanyisheng/ San Gi Shing masih dapat langsung mengenalnya, tetapi nabi Kongzhi mengenal hanya dengan mendengar. Dari saat nabi Kongzhi hidup, walaupun baru 100 tahun tidak ada yang meneruskannya (Ajaran Jalan Suci). Tetapi Han Yu/Han Ji pada 768-824 masehi meneruskannya dan ia dijuluki bapak kebangkitan Neo-Konfucianisme yang hidup pada jaman dinasti Tang/Tong (618-905 masehi), dalam salah satu karya tulisnya menegaskan: “Adapun jalan suci itu ialah yang diteruskan Yao kepada Shun; Shun pada Yu; Yu kepada Cheng Tang; Cheng Tang kepada raja suci Wen, raja Wu dan nabi Zhougong dan Ciukong Tan; raja Wen, raja wu, dan nabi Zhougong dan kepada Nabi Kongzi dan nabi Kongzi kepada Mengzi.
Konfusius memiliki golden rule, dalam mendefiniskan keadaan timbal balik: “Tidak mengerjakan hal-hal kepada orang lain, yang kita sendiri tidak menginginkan mereka mengerjakan hal-hal tersebut kepada kita. Konfusius sangat menekankan pendidikan kepada orang-orang banyak. Selain Chun Tzu (orang baik-baik), masyarakat kelas bawah juga dapat dididik untuk memperoleh pengetahuan. Konfusius berpendapat: “Tidak seorangpun dapat dipandang sebagai seorang Chun Tzu atas dasar keturunan; ini semata-mata merupakan masalah prilaku dan watak.” Inilah yang menjadi landasan bahwa Konfusius sangat menekankan pendidikan dengan dasar Li atau kepantasan-kepantasan dalam bersikap dan bertindak

2.2 Pedoman Kebaktian Tridharma

Kebaktian umum
1.         Persiapan umum
2.         Awal upacara
3.         Penyerahan Hio kepada pimpinan kebaktian
4.         Mohon doa
5.         Doa tridharma (pembuka)
6.         Pengembalian hio kepada pimpinan pembantu
7.         Penancapan hio
8.         Tridharma gita
9.         Pembacaan paritta wandana dan tisarana
10.     Penghormatan altar
11.     Vihara gita
12.     Meditasi dengan mantram om mani padme hum
13.     Doa pengantar kotbah
14.     Bimbingan dharma/ khotbah dharma
15.     Pembacaan parita penutup
16.     Dana paramita
17.     Doa tridharma penutup
18.     Gita rumah sentosa
19.     Penghormatan altar
20.     Pengumuman/penutup kebaktian

2.3 Hariraya Tridharma

A. Buddha :

Waisak ( Si Gwe Cap Go), yang memperingati 3 peristiwa penting dalam sejarah hidup Sakyamuni Buddha, Yaitu Kelahiran (623 SM), Mencapai penerangan Sempurna (592 SM), dan Mencapai Parinirwana/Mangkat (543 SM).
Asadha ( Lak Gwe Cap Go ), Yang memperingati hari pertama kali nya Sakyamuni Buddha berkotbah di dunia yaitu di Taman Rusa Isipatana, Benares kepada lima Pertapa ( Kaundinya, Asvajit, Bhadrika, Mahanama, Kasyapa ).
Hari Avalokitesvara ( Kuan Im Po Sat ), Yaitu Ji Gwe Cap Kaw (Mangkat)
Hari lahir Maitreya, yang di peringati setiap Cia Gwe Ce It bertepatan dengan Tuhan Baru Imlek / Sin Cia

B. Khong Hu Cu / Khung Fu Tze :

Hari lahir Nabi Khong Hu Cu : Pwe Gwe Ji Cit ( Tahun 551 SM )
Hari Wafat Nabi Khong Hu cu : Ji Gwe Cap Pwe ( Tahun 479 SM )

C. Taoisme :

Hari Lahir Nabi Lo Cu / Lao Tze : Jie Gwe Cap Go ( 571 SM )
Cio Ko / Chau tu ( Rebutan/keng Ho Peng) : Cit Gwe Cap Go S/d Cit Gwe Sa Cap
Hari Toapekong Naik ( Dewa Dapur / Cao Kun Kong ) : Cia Gwe Ce Sie
Hari Topekong Turun ( Dewa Dapur / Cao Kun Kong ) : Cia Gwe Ce sie
Hari Lahir Koan Kong / Kuan Te Kun : Lak Gwe Jie Sie
Hari Lahir Hok Tek Ceng Sin : Jie Gwe Ce Jie & Pwe Gwe Cap Go 
Hari Lahir Hian Tian Siang Tee : Sa Gwe Ce Sa
Hari Lahir Sain Jin Ku Po : Cit Gwe Cap Sa
Hari Lahir Han Tan Kong : Sa Gwe Cap Go
D. Tridharma :
Tahun Baru Imlek ( Sin Cia ) :Cia Gwe Ce It
Cap Go Me : Cia Gwe Cap Go
Keng Ti Kong : Cia Gwe Ce Kaw
Ceng Beng / Cing Ming ( Ziarah Makam ) : 4 atau 5 April
Peh Cu : Go Gwe Ce Go
Tiong Ciu : Pwe Gwe Cap Go
Tiong Ciu : Pwe Gwe Cap Go
Persembanyangan Tridharma : Jie Gwe 15, Jie Gwe 18, Jie Gwe 19
Hut Tridharma : 27 Juni
Hari Tridhrama : ( Hut Bpk Tridharma / Kwee Tek Hoay ) : 31 Juli
Puja Bakti Dana Tridharma : 1 Agustus s/d 31 Desember
Hari Sekolah Minggu Tridharma : 13 Juli

2.4 Kriteria Tempat Ibadah

A. Kuil Tridhrma

1. Altar Pemujaan
2. pemujaan tersebut menggunakan peralatan miniml: dupa/setngi, lilin, pelita,bungga, sesaji, bedug, genta.
3. pengelola tempat ibadah tersebut adalah badan atau lembaga yang bersiftkan Buddha Tridharma.
4. Tempat teersebut nyata-nyata sebagai tempat pemujaan dan bersifat terbuka untuk umum.
5. diakui dan dijamin sepenuhnya oleh pengurus MARTRISIA.

B. Cetia Tridhrma mempunyi

1. Syarat kuil Tridharma
2. Tempat ceramh atau kotbah

C. Vihara Tridhrma mempunyi

1. Syarat kuil Tridharma
2. kuti
3. Tempat rahib melaksanakan fungsi Sangha

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dari pembahasan diatas penulis menyimpulkan bahwa Tridharma merupakan perpaduan antara tiga kepercayaan yaitu Budddha, Khong Hu Cu, dan Taoisme yang kemudian dipaduakan menjadi satu dan kemudian disebut sebagai Tridharma. Tridharma merupakan perpaduan dari tiga ajaran besar yang saling mengisi, melengkapi  dan yang dalam pelaksanaan prakteknya sudah menjadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.
Meskipun antara ketiga ajaran tersebut menyebarkan pelajaran agung bagi kehidupan dengan metode penjabaran dan pendekatan yang berbeda, tetapi mengadung inti ajaran yang sama yaitu mengajarkan ilmu ketuhanan untuk keselamatan manusia dan dunia serta menyadarka manusia untuk mencapai kebahagiaan sejati sebagai tujuan terakhir.

3.2 Saran

Semoga setelah pembaca membaca makalah ini pembaca bisa menjadi lebih mengerti dan lebih memahami tentang ajaran Tridharma.     
           

DAFTAR PUSTAKA

Bakti. 1995. Tridharma, Seikat Bunga Rampai. Jakarta: Yayasan Balai Kitab Tridharma Indonesia.
Pedoman kebaktian tridharma

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar